Kamis, 06 Maret 2014

Bls: Slip gaji to bii

SAMARINDA, tribunkaltim.co.id - Sejumlah anak bermain di tengah banjir yang menggenangi Jl Wahid Hasyim, Kelurahan Sempaja Selatan, Samarinda, Kamis (6/3/2014), pasca-hujan mengguyur Samarinda sejak pukul 06.00 hingga pukul 09.00.Kawasan yang terparah yakni di RT 37, RT 38, sampai RT 45 Kelurahan Sempaja. Akibat banjir, sejumlah warga terpaksa menepi di halaman toko yang datarannya lebih tinggi dari jalan.Namun tidak sedikit warga yang nekat menerobos menggunakan kendaraan motor maupun mobil. "Banjir pada pagi hari sampai setinggi dada orang dewasa. Saya terpaksa menunggu di depan toko swalayan modern karena mobilnya macet seusai mengantar anak ke sekolah," ujar Zulkifli, warga Jl Batu Cermin Sempaja Utara.Selain itu enam truk mogok di Jl Wahid Hasyim Sempaja. Truk tersebut didorong personel Koramil TNI, satpol PP, personel BPBD dibantu warga, didorong ke pinggir jalan.Jalan Juanda 8 kawasan Samarinda Ulu juga tak luput digenangi banjir di atas mata kaki. Seorang warga, Firdan, terpaksa mengurungkan niat bekerja karena membantu keluarganya yang kebanjiran.

Dikirim dari Yahoo Mail pada Android



From: Rizandy <riz.anugrah@yahoo.co.id>;
To: Nizaulirafie Aa Papa <rizandy2002@yahoo.co.id>;
Subject: Slip gaji to bii
Sent: Thu, Mar 6, 2014 6:32:06 AM


--
Sent with Genius Scan for iPhone.


Rabu, 29 Januari 2014

Banjir di Nunukan, Pemprov Kaltara Dorong Diplomasi ke Malaysia Senin, 27 Januari 2014 19:31 WIB

TANJUNG SELOR, tribunkaltim.co.id – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) akan mendorong Pemerintah Pusat untuk melakukan hubungan diplomatik dengan Pemerintah Malaysia, terkait musibah banjir yang melanda tiga Kecamatan di Kabupaten Nunukan. Hal ini dikemukakan oleh Kepala Badan Kesbangpol dan Penanggulangan Bencana Provinsi Kaltara, Sanusi, Senin (27/1/2014).Berdasarkan hasil tinjauan yang dilakukan, Pemprov Kaltara menerima laporan bahwa banjir yang melanda Kecamatan Lumbis Ogong, Kecamatan Lumbis dan Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, disebabkan karena meluapnya hulu sungai di Malaysia. Kondisi itu diperparah dengan tingginya curah hujan dan pasang air laut, sehingga menyebabkan ratusan rumah terendam banjir.“Hasil tinjauan kami untuk sementara memang banjir itu disebabkan karena debet air Sungai Sembakung yang di atas seperti biasanya. Sungai itu melintasi tiga kecamatan. Nah ketika banjir, air di Sungai Sembakung selalu keruh dan yang menyebabkan keruh adalah Sungai Salang yang memang hulunya berada di Malaysia,” ujar Sanusi.Dari laporan Camat dan Kepala Desa setempat, tingkat penggundulan hutan di Malaysia sangat parah. Akibatnya air sungai keruh dan cepat meluap. Ditambah lagi intensitas curah hujan tinggi serta pasang air laut, menyebabkan banjir di tiga kecamatan tak terhindarkan.Sanusi mengatakan, berdasarkan laporan terakhir Senin pagi, air di Kecamatan Sembakung berangsur surut. Sedangkan di Kecamatan Lumbis dan Lumbis Ogong, pihaknya belum menerima laporan. Meski begitu, ketinggian air di Kecamatan Lumbis sempat mencapai 3-4 meter.Pemprov Kaltara tengah menyusun laporan untuk disampaikan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang intinya meminta Pemerintah Pusat untuk mengambil langkah diplomatik dengan pihak Malaysia terkait musibah yang terjadi di wilayah itu. Apalagi banjir di wilayah Sembakung kerap terjadi setiap tahunnya.“Memang untuk ke depannya hal ini perlu dibicarakan langsung oleh Pemerintah Pusat, karena hulu dari sungai itu ada di Malaysia. Kita berharap laporan ini bisa menjadi materi bagaimana penanggulangan khusus di wilayah itu,” katanya. (*)
Dikirim dari Yahoo Mail pada Android

Pasca Banjir, Warga Lumbis Ogong Nunukan Butuh Makanan Selasa, 28 Januari 2014 17:28 WIB

NUNUKAN,tribunkaltim.co.id- Ribuan warga korban banjir di Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan saat ini sangat mengharapkan bantuan makanan maupun kebutuhan masak memasak.Meskipun banjir telah surut, kebutuhan makanan masih sulit didapatkan di kawasan pedalaman yang jauh dari pusat ekonomi di Desa Mansalong, Kecamatan Lumbis, kecamatan induknya. Apalagi warga di Desa Mansalong juga ikut menjadi korban bencana banjir yang terjadi sejak Kamis (23/1/2014) hingga Minggu (26/1/2014).Selain Kecamatan Lumbis dan Kecamatan Lumbis Ogong, banjir akibat luapan Sungai Sembakung yang berhulu di Sungai Pensiangan, Sabah, Malaysia, serta Sungai Labang dan Sungai Simalumung di Kecamatan Lumbis Ogong telah merendam desa-desa di Kecamatan Sembakung dan Kecamatan Sembakung Atulai.Camat Lumbis Ogong Daud mengatakan, saat ini masyarakat sangat membutuhkan bantuan makanan, peralatan masak memasak seperti panci dan periuk serta piring maupun selimut.“Pada prinsipnya kami berharap pemerintah cepat tanggap,” ujarnya, Selasa (28/1/2014) saat menghubungi tribunkaltim.co.id (Tribunnews Network) melalui telepon seluler.Sebelumnya, warga telah menerima bantuan bahan makanan dari Pemerintah Kabupaten Nunukan yang disampaikan melalui Bupati Nunukan Haji Basri, saat berkunjung ke lokasi banjir, Jumat dan Sabtu lalu.“Saya sudah mengirimkan 20 sak beras, hari ini saya mengirimkan 150 sak beras,” ujarnya.Dari data Pemerintah Kecamatan Lumbis Ogong, banjir di kecamatan yang berbatasan darat langsung dengan Sabah, Malaysia itu telah membuat sekitar 194 rumah rusak berat. Sebanyak 62 rumah diantaranya hanyut total tanpa apapun yang tersisa termasuk harta benda di dalamanya.“Pada saat banjir, ada rumah yang spontan langsung hanyut. Setelah surut sehari kemudian, tanahnya longsor sehingga rumah-rumah yang berada di bantaran sungai itu habis hanyut terturun ke pinggir sungai,” ujarnya.Meskipun tak ada satupun korban jiwa dalam bencana banjir itu, namun luapan sungai telah membuat sekitar 1.000 kepala keluarga di 17 desa di Kecamatan Lumbis Ogong harus menanggung derita. Sebanyak 17 desa ini, terkena dampak banjir yang paling parah.“Sekarang masyarakat ada yang tinggal di tempat keluarga, kemudian ada yang membuat pondok-pondok kecil, tenda- tenda di dataran yang lebih tinggi,” ujarnya.

Dikirim dari Yahoo Mail pada Android

Pasca Banjir, Warga Lumbis Ogong Nunukan Butuh Makanan

Dikirim dari Yahoo Mail pada Android

Ribuan Warga MengungsiBanjir Rendam Tiga Kecamatan di Nunukan

NUNUKAN - Banjir bandang yang melanda tiga kecamatan yakni Lumbis, Lumbis Ogong, dan Sembakung, Kabupaten Nunukan, mulai berangsur surut. Sebelumnya dilaporkan ketinggian air di Mansalong, ibu kota kecamatan Lumbis, bervariasi antara 2-3 meter.Kiriman air bah dari dua sungai besar, yakni Sungai Sedalip yang berhulu di Kecamatan Lumbis dan Sungai Pengsiangan yang berhulu dari daratan Malaysia berlangsung sejak Kamis (23/1) pagi. Sejumlah fasilitas seperti masjid, sekolah dan pasar, terendam dan hanya menyisakan atap. Akibatnya, banjir besar yang pertama kali dalam sejarah banjir di Lumbis itu menenggelamkan sejumlah rumah dan kerugian yang ditaksir mencapai miliaran rupiah.Banjir yang masih berlangsung itu melumpuhkan aktivitas warga di Mansalong. Hingga kini, layanan listrik mati total sejak dua hari lalu. Sejumlah gardu yang berada tepat di sejumlah titik banjir tidak dapat difungsikan akibat terendam air.Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan, Muhammad Amin mengatakan sebagian warga telah mengungsi. Misalnya di Lumbis, titik lokasi pengungsian yang dipusatkan di Kantor Polsek Lumbis dipenuhi warga dari beberapa desa dari Kecamatan Lumbis Ogong. Meski, sebagian lagi mengungsi ke rumah sanak keluarga.Lain lagi dengan warga Sembakung yang rumahnya terendam hingga mencapai tiga meter. Beberapa di antara mereka memilih mengungsi ke atas gunung atau kanal, galian sungai yang membentuk tanggul dan membangun tenda pengungsian secara swadaya.“Di Sembakung, dari pantauan kami sekitar 7.000 jiwa menjadi korban. Dan sebagian di antara mereka telah mengungsi. Begitu juga di Lumbis, cuman kita masih terus memantau, Lumbis sudah surut,” kata Muhammad Amin kepada Radar Nunukan (Kaltim Post Group), kemarin (24/1) sore.Sehari sebelum terjadinya banjir, warga Lumbis memperkirakan banjir tahunan akan terjadi seperti tahun sebelumnya dengan ketinggian 0,5-1 meter. Perkiraan itu ternyata meleset. Beberapa tokoh masyarakat di Lumbis mengungkapkan banjir tahunan kali ini adalah yang terbesar sepanjang sejarah. Banjir yang hampir sama, pernah terjadi di tahun 1989. Saat itu pemerintah daerah Kabupaten Bulungan merelokasi ratusan KK.“Makanya itu ada namanya lokasi I, lokasi II dan lokasi III. Lokasi-lokasi ini adalah pengungsian dulu, warga yang diungsikan waktu itu dibuatkan bangsal. Dan kali ini terjadi lagi, dan ini yang terbesar sudah. Sampai kabel listrik sudah setinggi dengan air. Masjid di Mansalong dekat pasar, yang posisinya cukup tinggi sampai terendam hingga nyaris membumbung ke bagian atap,” terang Abu, salah seorang warga Mansalong. (war/kpnn/tom/k10)

Dikirim dari Yahoo Mail pada Android

Jumat, 20 September 2013

SESUAI KAJIAN?: Aktivitas pemancangan tiang Jembatan S di Sungai Karang Mumus ini dipertanyakan publik, karena bakal mempersempit sungai dan berpotensi banjir.

Haryoto: Sebaiknya Tidak Dipancang di Sungai
SAMARINDA - Pembangunan Jembatan S yang menghubungkan Jalan Tongkol dan Jalan Mulawarman telah berprogres 72 persen untuk tahap I. Yakni pemancangan tiang fondasi dan abutment (pangkal jembatan) sampai posisi penyangga. Walau proyek ini sempat dikritik warga lantaran pemancangan fondasi dilakukan di Sungai Karang Mumus (SKM), namun ditepis Staf Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pembangunan Jembatan S Budi Santoso yang menyebut tidak masalah karena sudah dikaji. Walau begitu, pengamat perkotaan dan lalu-lintas Haryoto pun angkat bicara. Dia mengatakan, terkait pemancangan tiang fondasi di badan sungai, secara kaidah teknis memang diperkenankan. "Di mana saja (tiang) dipancang juga bisa," katanya kepada Kaltim Post, kemarin (19/9) siang.Meski diakuinya pada saat dia menjadi Kabid Bina Marga Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Samarinda, dia sudah menyarankan agar tidak dipancang di badan sungai. "Lagi pula konsultan sudah ada yang mengkaji soal itu. Alangkah baiknya jangan di badan sungai," beber dia. Namun dirinya mengaku lupa nama konsultan yang pernah mengkaji tersebut.Pria berkacamata itu menjadi heran soal izin penggunaan alur sungai untuk pemancangan. Menurut dia, bukan di Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Kaltim, melainkan di Bidang Sumber Daya Air Dinas PU Kaltim.Kembali ke saran larangan tersebut, alasannya yakni terkait estetika di kawasan tersebut.Sekadar tambahan, bantaran Sungai Karang Mumus (SKM) sejak belasan tahun lalu diproyeksikan menjadi Ruang Terbuka Hijau. Tak pelak permukiman di area tersebut direlokasi. "Makanya itu, setidaknya menghargai pihak (SDA Dinas PU Kaltim, Red.) yang menormalisasi sungai itu juga. Niatnya 'kan membersihkan dan melebarkan sungai tersebut," tutur dia.Dengan adanya tiang pancang, malah tak sejalan dengan program normalisasi. "Buat apa dong dilebarkan, toh kalau sekarang ada hambatannya (tiang pancang)," lanjutnya mantan Kabid Tata Kota Disciptakot Samarinda ini.Selain itu dia mengkritisi, Staf Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pembangunan Jembatan S, seyogianya dia tak berbicara soal banjir. "Serahkan sajalah sama Bidang Pengendalian Banjir DBMP Samarinda. Koordinasi tidak jalan juga," imbuhnya. (*/ril/ibr/k8)

Dikirim dari Yahoo! Mail pada Android

Kamis, 04 Juli 2013

Samboja Lumpuh LagiBanjir Bandang Ketiga dalam Tiga Tahun

SAMBOJA - Memori bencana setahun lalu yang masih membekas di benak warga di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar), kini terulang lagi. Banjir lagi-lagi merendam ratusan rumah dan sawah sejak Selasa (2/7) dini hari. Menerjang tiga kelurahan di kecamatan pesisir Kukar, genangan baru pergi 10 jam kemudian.Terjangan banjir setinggi satu meter membuat lumpuh aktivitas warga Kelurahan Margomulyo, Sungai Seluang, dan Wonotirto. Air merendam sedikitnya 500 rumah yang dihuni sekitar seribu jiwa di kecamatan yang penuh dengan izin pertambangan batu bara tersebut.Berdasarkan pantauan Kaltim Post, Sungai Seluang adalah yang terparah. Bahkan jalan poros yang menghubungkan Samboja-Muara Jawa sukar dilewati karena genangan.Di atas aspal, tepatnya di pertigaan Sungai Seluang-Km 38 Jalan Soekarno-Hatta, arus air begitu deras. Beberapa sepeda motor mogok. Hingga pukul 08.00 Wita, belum terlihat bantuan dari pihak berwenang. Media ini hanya melihat beberapa anggota PMI Samboja menggalang sumbangan akibat banjir besar.Sedikitnya, Samboja tiga kali diterjang banjir besar sejak tiga tahun terakhir. Kejadian nyaris serupa pada 2010 dan 2012.Sabarudin, warga Sungai Seluang, mengatakan banjir kali ini adalah terbesar kedua setelah Juli 2012 lalu. Kala itu, 600 rumah terendam dan seorang warga tewas. Kali ini, banjir merendam rumah, sepeda motor, beberapa mobil, serta hamparan sawah.Menurut Sabaruddin, warga Sungai Seluang, kelurahan tempat dia tinggal dahulu sebuah danau besar. Aliran air berkumpul di sana.“Air berasal dari gunung yang sekarang sudah gundul karena pembukaan lahan untuk tambang. Tak ada lagi daerah resapan. Air langsung turun ke sini,” sebutnya.Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Sungai Seluang, Sugiyono, menambahkan bahwa air juga merendam Kantor Lurah Sungai Seluang. Dia bahkan menyebut bencana ini seperti banjir bandang. Datang tiba-tiba ketika warga sedang lelap. Banyak barang yang tidak sempat diselamatkan.“Air mengalir dengan deras,” ucapnya, kala ditemui di Kantor Lurah Sungai Seluang.Menurut data yang dihimpun PMI Samboja, Sungai Seluang adalah daerah langganan banjir. Namun genangan kemarin adalah yang terparah. Biasanya banjir hanya menggenangi permukiman dan tidak sampai ke jalan.“Kami masih mendata berapa RT yang terkena banjir,” jelas Kepala Markas PMI Samboja, Masliyadi, ketika ditemui di Sungai Seluang. Dikatakan, banjir ini karena penyempitan dan pendangkalan drainase.“Selain pendangkalan, kegiatan pertambangan turut ambil bagian dalam bencana. Pembukaan lahan menyebabkan gunung menjadi gundul,” tambahnya.Masliyadi menjelaskan, drainase di tiga kelurahan sesungguhnya sudah dinormalisasi. Namun ketika hujan, air dari daerah tinggi membawa lumpur sehingga drainase penuh sedimen.“Saya menduga lumpur yang dibawa air hujan itu berasal dari kegiatan tambang,” ucapnya. Beberapa perusahaan tambang, tambah dia, bersedia memberi bantuan berupa nasi bungkus kepada warga yang jadi korban bencana.“Belum ada korban jiwa yang dilaporkan. Kami berharap jangan sampai terjadi,” harapnya.Ketua RT 1, Sungai Seluang, Muhammad Haris, membenarkan bahwa warga benar-benar trauma atas banjir bandang setahun lalu. Tak hanya rumah yang terendam, puluhan hektare sawah jadi korban.Hingga pukul 13.00 Wita kemarin, sawah milik petani di Samboja masih terendam. Padahal sebagian besar baru ditanami benih padi. “Banjir membuat benih hanyut,” sebutnya.Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kukar, Ahyani Fadianur Diani, menjelaskan proyek pengendalian banjir di Samboja saat ini tengah direncanakan Pemkab Kukar. Perencanaan penanganan banjir di Samboja, kata dia, dianggarkan di APBD Kukar 2013 sebesar Rp 500 juta. Ditargetkan, perencanaan rampung akhir tahun sehingga tahun depan proyek fisik bisa dianggarkan. (*/bjo/rom/fel/zal/che/k1)

Dikirim dari Yahoo! Mail pada Android