Rabu, 11 Juni 2014

Kebocoran Bendungan Waduk Manggar

BALIKPAPAN — Kebocoran Bendungan Waduk Manggar, Balikpapan Utara, semakin parah, bahkan rawan jebol. Pemkot Balikpapan sudah menetapkan Waduk Manggar masuk dalam keadaan darurat dan mengimbau kepada masyarakat di sekitar waduk untuk waspada. Sebagai antisipasi, air Waduk Manggar akan dikuras, airnya dibuang ke laut melalui Sungai Manggar.

Demikian disampaikan dalam konferensi pers yang digelar pemerintah kota mengenai kondisi Waduk Manggar, Senin (9/6). Dijelaskan, kebocoran bendungan diperkirakan akibat bocornya dua pipa isap (intake valve) yang berumur 30 tahun yang terdapat di dalam tubuh bendungan. Kejadian tak normal ini baru pertama kali terjadi dan diketahui pada 26 April lalu. Di mana terjadi kenaikan muka air pada alat pengukur rembesan. Selengkapnya lihat infografis.

"Karena itu, dua pipa isap yang sebelumnya digunakan oleh PDAM itu harus ditutup. Sehingga otomatis akan mengganggu distribusi air bersih oleh PDAM. Berdasarkan instruksi dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III di bawah Dirjen Sumber Daya Alam, perbaikan harus segera dilakukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Kami juga tidak mau sampai terjadi seperti di Situgintung, Jawa Barat, 2009 lalu ," kata Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi.

Dalam paparannya mengenai hasil evaluasi kondisi bendungan pada 1 Juni 2014, ditarik beberapa poin penting. Yakni, kondisi bendungan Manggar pada kondisi sangat kritis karena sudah terjadi piping disertai runtuhnya sebagian tubuh bendungan yang akan mengganggu stabilitas lereng bendungan dan memicu runtuhnya bendungan.

Piping diduga kuat disebabkan oleh bocornya kedua pipa isap PDAM pada posisi sambungan kedua atau kurang lebih 12 m dari posisi Chamber. Hal ini dibuktikan dengan runtuhnya tubuh bendungan di atas posisi tersebut. Sehingga, langkah terbaik adalah menutup total pintu intake dan menghentikan operasi pompa PDAM.

Selanjutnya, akan dilakukan pengurasan air Waduk Manggar menggunakan sembilan pompa isap. Saat ini baru ada tiga pompa, kekurangannya masih akan dicarikan untuk bisa disewa. Waduk berkapasitas 16 juta meter kubik (m3) itu akan dikuras sampai ketinggiannya 6 meter saja (kapasitas tersisa 6 m3). Sebab, titik kebocoran berada pada ketinggian 6 meter. Artinya, sebanyak 10 juta kubik air Waduk Manggar akan dibuang ke laut melalui Sungai Manggar.   

Pengurasan ini dilakukan untuk menghindari jebolnya tanggul waduk. Jika itu terjadi, lokasi-lokasi yang dipastikan tergenang adalah Kelurahan Manggarsari, Kelurahan Karang Joang, Kelurahan Lamaru, sebagian Kelurahan Teritip, dan Kelurahan Sepinggan.

"Semua biaya perbaikan ditanggung oleh Dirjen Sumber Daya Alam. Makanya besok (hari ini, Red) Dirjen akan datang meninjau lokasi. Tapi tetap ada anggaran dari daerah untuk menanggulangi dampak sosial. Kami juga akan segera membuat beberapa posko tanggap darurat," tambah Rizal.

Senada, Ketua DPRD Balikpapan Andi Burhanuddin Solong (ABS) meminta pemerintah kota segera menghitung kebutuhan anggaran. "Kita sudah sepakat dan sepaham. Jadi segera usulkan anggaran itu mendahului APBD Perubahan. Karena ini darurat," pungkasnya. (*/rsh/tom/k8)
http://m.kaltimpost.co.id/berita/detail/78418-waduk-manggar-rawan-jebol


Sent from my iPhone

Balikpapan Bakal Krisis Air Panjang

2014-06-10 08:40:19 | dibaca: 151 kali

Balikpapan Bakal Krisis Air Panjang

JANGKA waktu perbaikan bendungan Waduk Manggar belum bisa ditentukan. Namun, untuk pengurasan air waduk saja diperkirakan butuh waktu sebulan. Setelah itu, baru bisa ditentukan masa untuk perbaikan bendungan. Sementara, dalam kurun waktu tersebut, ancaman krisis air baku di depan mata.

Ya, Waduk Manggar menjadi sumber air baku terbesar bagi Balikpapan. Dari kemampuan suplai air oleh PDAM sebesar 1.150 liter per detik, 900 liter per detik di antaranya berasal dari Waduk Manggar. Waduk ini menyuplai untuk Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Km 8 dan IPAM Damai. Dengan adanya berbagai permasalahan, kota ini tentu rawan mengalami krisis air baku.

Kendati demikian, Asisten II Setkot Balikpapan Sri Soetantinah mengatakan, PDAM bakal tetap memanfaatkan Waduk Manggar untuk memberikan pelayanan air bersih kepada masyarakat. Ia berharap, Balikpapan tidak dilanda kemarau panjang, sehingga meski air waduk sudah dikuras separuh lebih, tapi masih bisa disedot PDAM untuk didistribusikan ke pelanggan.

"PDAM akan membangun pipa sementara di atas permukaan dan pompa air di atas ponton dengan kapasitas 330 liter per detik. Hari ini (kemarin), pemasangan ponton mulai dilakukan. Rencananya ada tiga ponton, tapi baru ada dua ponton. Kalau tiga ponton itu tetap beroperasi, kapasitas produksi bisa 990 liter per detik. Sehingga bisa menutup produksi yang biasa dilakukan," terangnya.

Terpisah, Dirut PDAM M Soufan membenarkan hal tersebut. Ia berharap beban sewa ponton ditanggung oleh Dirjen SDA. Sebab, biayanya tak murah. Untuk satu ponton tarif sewanya Rp 340 juta per bulan. Jadi jika 3 ponton tarif sewanya Rp 1 miliar per bulan. Itu belum termasuk kebutuhan solar yang mencapai 2,4 ton per hari.

"Saya juga masih belum tahu apakah pompa itu bisa bekerja selama sebulan nonstop. Kami masih negosiasi supaya kalau pompa itu gangguan, ada pompa cadangan sebagai pengganti tanpa perlu menambah biaya sewa," tambah Soufan.

Sebagai informasi, jumlah pelanggan PDAM sampai Mei 2014 sebanyak 88.981 pelanggan. Jumlah pelanggan yang dilayani IPAM Km 8 sebanyak 37.677 pelanggan, sementara yang dilayani IPAM Damai sebanyak 27.389 pelanggan. Sehingga persentase jumlah pelanggan yang akan terganggu (pelanggan IPAM Damai dan Km 8) sebanyak 73 persen.

Untuk mengurangi dampak krisis air ini, PDAM mengimbau kepada masyarakat dan hotel maupun industri yang punya sumur dalam agar berbagi terhadap warga sekitar. PDAM juga meminta Pertamina untuk membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat. (*/rsh/tom/k8)
http://m.kaltimpost.co.id/berita/detail/78397-balikpapan-bakal-krisis-air-panjang


Sent from my iPhone

Jumat, 30 Mei 2014

BMKG Kembali Imbau Warga Samarinda Waspadai Banjir

BMKG Kembali Imbau Warga Samarinda Waspadai Banjir

SAMARINDA, tribunkaltim.co.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan warga Samarinda, Kalimantan Timur, agar mewaspadai banjir menyusul hujan yang mengguyur daerah itu sejak Rabu dini hari hingga siang.
   
"Kami kembali mengingatkan warga agar mewaspadai banjir khususnya di wilayah yang selama ini memang rawan tergenang," ungkap Kepala BMKG Bandara Temindung Samarinda, Sutrisno, Rabu.
   
Hujan yang mengguyur Kota Samarinda, kata Sutrisno, masih dalam kategori sedang.  Curah hujan yang terjadi pada Rabu dini hari pukul 03.00 hingga pukul 08.00 Wita lanjut Sutrisno hanya sekitar 66 mili meter.
   
"Curah hujan mulai pukul 03.00 hingga 08.00 Wita sekitar 66 mili meter dan pada pukul 08.00 sampai sekarang (siang) 16 mili meter. Curah hujan di bawah 100 mili meter masih masuk kategori sedang dan di atas 100 mili meter kategori ekstrem. Kalau hujan seperti ini, biasanya genangan air hanya berlangsung sesaat saja, tetapi warga tetap harus waspada dan terpenting menjaga lingkungan," kata Sutrisno.
   
Hujan dengan kategori sedang, kata Sutrisno, masih berpotensi terjadi di wilayah Kota Samarinda dan beberapa kota lainnya di Kaltim dalam sepekan ke depan.
   
"Potensi terjadinya hujan dengan kategori sedang masih kemungkingkan terjadi dalam satu pekan ke depan. Untuk musim kemarau di Kota Samarinda dan sejumlah wilayah lainnya di Kaltim diprediksi berlangsung pada Juni atau Juli 2014," katanya.
   
"Jadi, saat ini wilayah Kota Samarinda masih tahap musim pancaroba," ujarnya. Untuk jalur pelayaran dan penerbangan, lanjut dia, juga masih aman dan tidak ada kendala.
   
Akibat hujan yang mengguyur Kota Samarinda sejak Rabu dini hari hingga siang, sejumlah ruas jalan protokol di daerah itu tergenang.
   
Genangan air terlihat terjadi di kawasan Simpang Empat Mal Lembuswana dengan ketinggian air berkisar 30-50 centimeter.
   
Begitu pula di Jalan AM. Rifadin atau jalur menuju Kota Balikpapan, dengan ketinggian air 20-40 centimeter.
   
Genangan air setinggi 30 hingga 60 centimeter juga terlihat terjadi di kawasan yang selama ini jarang tergenang yakni di Jalan Slamet Riyadi hingga Jalan Untung Suropati.
   
Di kawasan Simpang Empat Jalan KH Wahid Hasyim dan Jalan PM Noor, ketinggian air mencapai 40 centimeter.  (antara)

Ratusan Rumah Warga Berau Terendam Banjir

BREAKING NEWS: Ratusan Rumah Warga Berau Terendam Banjir














TANJUNG REDEB, TRIBUN - Hujan  disertai petir selama 2 jam yang terjadi pada Rabu (28/5/2014)  hari ini, menyebabkan ratusan rumah warga terendam air. Selokan tak lagi mampu menampung debit air, air hujan pun mengalir denganderas keruas-ruas jalan, sebelum akhirnya memasuki rumah-rumah warga, gedung-gedung sekolah dan perkantoran.

Tak banyak yang bisa dilakukan ketika hujan turun. Seperti biasa, warga juga sudah bisa memprediksi, rumah mereka bakal terendam air. “Hujannya sebentar saja, air langsungnai ksampai kerumah,” kata Rusmini, warga yang bermukim di JalanMangga II.

Di kawasan itu, Dinas Pekerjaan Umum tengah mengerjakan proyek peningkatanj alan dan drainase,  Kantor Kebersihan Pertamanan dan Pemadam Kebakaran (KKPPK) pun hampir setiap pekan selalu membersihkan drainase yang tertutuplumpurdansampah.

Tapi persoalannya bukan hanya drainase tertutup sampah dan lumpur. Drainase yang ada sekarang jugaterlalu kecil dan tak terkoneksi dengan saluran pembuangan lainnya.


Kerugian Warga Samarinda Akibat Banjir 250 M Pertahun

Kamis, 29 Mei 2014 20:45 WIB
Kerugian Warga Samarinda Akibat Banjir 250 M Pertahun

Toko - toko di Jl M Yamin depan GOR Sempaja Samarinda tutup karena banjir pada, Rabu lalu.
SAMARINDA, tribunkaltim.co.id - Hujan deras yang mengguyur kota Samarinda sejak, Rabu (28/5/2014) dini hari sekitar pukul 03.00, hingga jelang siang hari mengakibatkan banjir di sejumlah titik. Di titik - titik seperti simpang 4 Mal Lembuswana, Jl Lambung Mangkurat, Jl Gerilya hingga siang hari masih digenangi air setinggi lutut orang dewasa. Di Jl Gerilya, warga melarang kendaraan roda 4 ke atas melintas. Penyebabnya, hempasan kendaraan ketika lewat menyebabkan air masuk ke rumah - rumah warga.
Banjir parah juga terjadi di Jl M Yamin, tepatnya di depan GOR Madya Sempaja. Tinggi air yang melebihi lutut orang dewasa membuat lalu lintas untuk beberapa waktu lumpuh. Selain menggganggu arus lintas, ternyata banjir ini mengakibatkan berkurangnya pendapatan warga yang menggantungkan hidupnya dari pengendara dan masyarakat sekitar yang lalu lalang di jalan tersebut. Beberapa rumah makan dan toko terlihat tutup sejak pagi hari dan tidak ada tanda - tanda akan dibuka kembali.
Salah seorang pemilik toko kelontong di Jl M Yamin, Ryah mengaku jika banjir terjadi maka dipastikan pembeli akan menurun drastis. Pasalnya, untuk menuju tokonya pembeli harus melewati genangan air yang cukup dalam. Para pembeli juga menurutnya lebih baik mengurungkan niat untuk membeli daripada mengambil resiko melewati genangan air yang tidak tahu apakah ada lubang atau tidak. Jika tanpa banjir Ryah mengaku bisa memperoleh penjualan hinga Rp 1 juta.

"Kalau banjir begini, mau dapat Rp 300 ribu saja sulit," katanya.

Hal senada dikatakan Adi, pemilik toko sepatu yang masih di Jl M Yamin. Kendatipun genangan air menuju tokonnya tidak terlalu tinggi, tetap saja minat pembeli untuk berkunjung menurun. Biasanya jika tidak hujan, ia mengaku dapat memperoleh antara Rp 1 juta-  Rp 3 juta perhari. Dan jika banjir, pulang tanpa penjualan serupiah pun tak jarang dialami. Namun kendatipun demikian, ia mengaku lebih beruntung dibanding pedagang makanan di lokasi tersebut. Dagangannya kata Adi, walau pun tidak laku dijual saat ini tetap masih bisa dijual di lain hari. Berbeda dengan penjual makanan, jika makanan sudah sempat dimasak dan terjadi banjir, maka dipastikan tidak akan ada pembeli dan makanan tidak bisa dijual esok harinya.

"Sebenarnya saya sudah mau pulang ini. Tapi di rumah juga nggak ada kerjaan yang makanya di toko saja," katanya.

Pakar Ekonomi Lingkungan Kaltim sekaligus pengajar di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Ir Bernaulus Saragih, M.Sc. Ph.D menilai, keseriusan pemkot Samarinda untuk menuntaskan banjir ini masih kurang. Walau pun menurutnya baru - baru ini ada rembug banjir yang diprakarsai Pemprov Kaltim, tapi hingga kini belum ada langkah konkrit dan mamfaat terlihat dari di lapangan. Padahal kata Bernaulus, masyarakat hingga kini tetap menunggu kapan masalah banjir ini dapat diselesaikan Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim.

"Apakah itu hanya sekedar pencitraan, agar publik menganggap ada usaha atau memang hanya sekedar menenangkan hati rakyat. Tapi faktanya, sampai sekarang pemprov belum melakukan usaha yang sebagaimana mestinya dilakukan untuk menanggulangi banjir," kata Bernaulus.

Dan menurutnya, pasti ada banyak kerugian setiap kali terjadi banjir. Dan selalu saja, kerugian dan dampak banjir selalu lebih banyak dipikul masyarakat.

Kendatipun belum ada hitung - hitungan detail, Bernaulus memperkirakan bila terjadi banjir saja di titik - titik seperti Sempaja, seputaran Mal Lembuswana, Jl Kesejahteraan, Jl Lambung Mangkurat dan lainnya, jumlahnya bila dirupiahkan sangatlah besar mencapai Rp 200 - Rp 250 miliar setiap tahunnya. Hal itu berdasarkan kerugian yang dialami sektor ekonomi, pendidikan, jasa, transportasi yang sudah dirugikan. Selain kerugian langsung, dampak seperti uang sekolah yang sudah dibayar tapi belajar mengajar tidak bisa dinikmati, sopir yang yang tidak bisa mengejar setoran karena banjir, umur spare part kendaraan yang semakin pendek juga harus dihitung.

"Belum termasuk lagi klo sampai anak sekolah diliburkan, kerugian pendidikan. Tidak hanya semata - mata toko, pasar, transportasi, tapi juga pendidikan akan berpengaruh," kata Bernaulus.

Ia juga menyarankan pemerintah mengalokasikan dana penelitian untuk menghitung dampak akibat banjir. Jadi menurutnya akan bisa melihat, bahwa kalau itu dibenahi dengan baik akan mencegah pengeluaran - pengeluaran yang tidak diperlukan di tengah masyarakat.

"Saya yakin kerugiannya besar. Bukan hanya masalah ekonomi, transportasi, saja, lingkungan, ekonomi pendidikan, spektrumnya luas. Namun kita perlu sesungguhnya melakukan perhitungan. Tapi berdasarkan estimasi - estimasi kasar yang pernah bapak hitung, belum detail antara Rp 200 miliar - Rp 250 miliar pertahun," katanya.

Kamis, 06 Maret 2014

banjir di wahid hasyim sempaja

SAMARINDA, tribunkaltim.co.id - Sejumlah anak bermain di tengah banjir yang menggenangi Jl Wahid Hasyim, Kelurahan Sempaja Selatan, Samarinda, Kamis (6/3/2014), pasca-hujan mengguyur Samarinda sejak pukul 06.00 hingga pukul 09.00.Kawasan yang terparah yakni di RT 37, RT 38, sampai RT 45 Kelurahan Sempaja. Akibat banjir, sejumlah warga terpaksa menepi di halaman toko yang datarannya lebih tinggi dari jalan.Namun tidak sedikit warga yang nekat menerobos menggunakan kendaraan motor maupun mobil. "Banjir pada pagi hari sampai setinggi dada orang dewasa. Saya terpaksa menunggu di depan toko swalayan modern karena mobilnya macet seusai mengantar anak ke sekolah," ujar Zulkifli, warga Jl Batu Cermin Sempaja Utara.Selain itu enam truk mogok di Jl Wahid Hasyim Sempaja. Truk tersebut didorong personel Koramil TNI, satpol PP, personel BPBD dibantu warga, didorong ke pinggir jalan.Jalan Juanda 8 kawasan Samarinda Ulu juga tak luput digenangi banjir di atas mata kaki. Seorang warga, Firdan, terpaksa mengurungkan niat bekerja karena membantu keluarganya yang kebanjiran.



Rabu, 29 Januari 2014

Banjir di Nunukan, Pemprov Kaltara Dorong Diplomasi ke Malaysia Senin, 27 Januari 2014 19:31 WIB

TANJUNG SELOR, tribunkaltim.co.id – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) akan mendorong Pemerintah Pusat untuk melakukan hubungan diplomatik dengan Pemerintah Malaysia, terkait musibah banjir yang melanda tiga Kecamatan di Kabupaten Nunukan. Hal ini dikemukakan oleh Kepala Badan Kesbangpol dan Penanggulangan Bencana Provinsi Kaltara, Sanusi, Senin (27/1/2014).Berdasarkan hasil tinjauan yang dilakukan, Pemprov Kaltara menerima laporan bahwa banjir yang melanda Kecamatan Lumbis Ogong, Kecamatan Lumbis dan Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, disebabkan karena meluapnya hulu sungai di Malaysia. Kondisi itu diperparah dengan tingginya curah hujan dan pasang air laut, sehingga menyebabkan ratusan rumah terendam banjir.“Hasil tinjauan kami untuk sementara memang banjir itu disebabkan karena debet air Sungai Sembakung yang di atas seperti biasanya. Sungai itu melintasi tiga kecamatan. Nah ketika banjir, air di Sungai Sembakung selalu keruh dan yang menyebabkan keruh adalah Sungai Salang yang memang hulunya berada di Malaysia,” ujar Sanusi.Dari laporan Camat dan Kepala Desa setempat, tingkat penggundulan hutan di Malaysia sangat parah. Akibatnya air sungai keruh dan cepat meluap. Ditambah lagi intensitas curah hujan tinggi serta pasang air laut, menyebabkan banjir di tiga kecamatan tak terhindarkan.Sanusi mengatakan, berdasarkan laporan terakhir Senin pagi, air di Kecamatan Sembakung berangsur surut. Sedangkan di Kecamatan Lumbis dan Lumbis Ogong, pihaknya belum menerima laporan. Meski begitu, ketinggian air di Kecamatan Lumbis sempat mencapai 3-4 meter.Pemprov Kaltara tengah menyusun laporan untuk disampaikan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang intinya meminta Pemerintah Pusat untuk mengambil langkah diplomatik dengan pihak Malaysia terkait musibah yang terjadi di wilayah itu. Apalagi banjir di wilayah Sembakung kerap terjadi setiap tahunnya.“Memang untuk ke depannya hal ini perlu dibicarakan langsung oleh Pemerintah Pusat, karena hulu dari sungai itu ada di Malaysia. Kita berharap laporan ini bisa menjadi materi bagaimana penanggulangan khusus di wilayah itu,” katanya. (*)
Dikirim dari Yahoo Mail pada Android